Dampak Dari Krisis Korea

Ketegangan antara Korea Selatan dan dan Korea Utara yang semakin meningkat akan semakin menekan nilai tukar rupiah. Apalagi imbal hasil obligasi di Eropa terus naik.

Menteri luar negeri Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan akan bertemu di Washington pada 6 Desember untuk membicarakan krisis dengan Korea Utara. Ketiga negara itu juga akan membicarakan usul China untuk mengadakan pertemuan puncak keenam-pihak yang telah berupaya untuk mengekang program nuklir Korea Utara. Rusia dan Korea Utara adalah bagian dari kelompok itu.

Di Washington, seorang pejabat Gedung Putih menolak untuk memastikan pertemuan itu, dan hanya mengatakan bahwa AS telah berkonsultasi dengan Korea Selatan, Jepang dan mitra lainnya "untuk membangun jalan ke depan mengenai situasi Korea Utara.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pertemuan itu, juru bicara Deplu AS P.J.Crowley mengatakan pada wartawan: "Itu hal yang telah kami bicarakan dan ... jika pertemuan itu telah dikonfirmasi, kami akan mengumumkannya segera".

Prediksi hari ini Senin (29/11) rupiah masih ada pelemahan tipis di kisaran Rp8.995-9.010. "Kami perkirakan penguatan US$ akan berlanjut karena kedua faktor itu," tulis riset tersebut.

Pada pekan lalu, ditutup turun Rp8.993 karena penguatan US$ yang menguat terhadap semua mata uang Asia. Masalah utang di beberapa negara Uni Eropa dan ketegangan Korea masih berlanjut. Hal ini membuat dolar menguat terhadap euro dan mata uang dunia lainnya

Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (30/11) ditutup turun 22 poin menjadi Rp9.032-Rp9.042 dari posisi sebelumnya di Rp9.010-Rp9.020 per dolar AS. Sedangkan menurut data Bloomberg pukul 16.00 WIB, rupiah terpantau melemah 28.2 poin (0,3135%) ke 9.040 per dolar AS.
Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib mengatakan, rupiah terus melemah menjauhi level Rp9.000 per dolar, dipicu memburuknya faktor eksternal. Penguatan dolar AS terhadap euro dan yen, juga memberikan andil bagi kemerosotan pasar uang terhadap rupiah,”Hal ini memicu pelaku pasar makin aktif melepas rupiah untuk membeli dolar,” katanya.

Sementara di tempat lain, dolar Singapura jatuh 1,7% bulan ini ke S$ 1,3205, ringgit Malaysia turun 1,5% menjadi 3,1660 dan dolar Taiwan turun 0,2% menjadi NT $ 30,85. Mata uang Asia telah mengkonfirmasi koreksi bulanannya, dipimpin rupee India dan won Korsel. Hal ini terjadi seiring melambatnya investasi di emerging market atas kekhawatiran krisis utang Eropa akan menyebar.
Indks Asia Dolar Bloomberg-JP Morgan November anjlok 1,1% ke 114,12, penurunan terbesar sejal Mei. Rupee terkoeksi 3,4% menjadi 46,02 per dolar AS, won Korsel melemah 2,9% ke 1.159,25 dan peso Filipina jatuh 2,2% ke 44,01.

Stuart Oakley, kepala valas negara berkembang di Royal Bank of Skotlandia untuk Asia, yang berbasis di Singapura mengatakan, setiap pelaku pasar masih membandingkan risiko dimana terdapat banyak ketidakpastian di dunia saat ini, terutama seputar pendanaan dan imbasnya terhadap Spanyol dan negara Eropa lainnya. “Kami melihat lebih baik membeli dolar AS saat ini,” ujarnya.
Investor asing bulan ini menjadi net seller dari saham-saham di pasar Indonesia, Filipina dan Thailand. Euro jatuh ke lvel 2 bulan teredah atas dolar AS, seiring kekhawatiran krisis perbankan Eropa akan menyebar, seiring jatuhnya obligasi Spanyol dan Portugis pascabailout Irlandia senilai 85 juta euro (US$111 miliar).

Won membukukan kejatuhan terdalam sejak Mei, saat ketegangan militer di semenanjung Korea menahan permintaan atas aset Korsel. Won mencapai level 1.172,5 pada 24 November, level terendah sejak 9 September, sehari setelah Korut menyerang pulau Yeonpyeong di Korsel.
Kim Jin Ju, pedagang valasi di Korea Exchange Bank, Seoul mengatakan, krisis utang Eropa sedang disorot lagi. "Saat ini dolar menguat. Risiko geopolitik dari Korea Utara akan mereda, tetapi akan memicu kerugian jika ada serangan lagi. "

Rupee India memangkas kerugian harian, setelah rilisnya laporan bahwa ekonomi tumbuh 8,9% pada kuartal ketiga dari tahun sebelumnya. Angka itu lebih besar dari estimasi analis sebesar 8,2%. Peso Filipina catatkan koreksi terbesar bulanan sejak Mei, setelah laporan menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal tiga 2010 yang melambat menjadi 6,5% ketimbang tahun lalu. Sedangkan kuartal sebelumnya masih membukukan ekspansi 8,2%.
Baht Thailand terkoreksi bulan ini. Perlambatan pertumbuhan ekonomi mengurangi kebutuhan untuk suku bunga yang lebih tinggi dan upaya menghapus partai Demokrat dari permintaan pelengseran kekuasaan. Baht terkoreksi 0,8% menjadi 30,21.
Mahkamah Konstitusi Thailand kemarin menolak tuduhan bahwa partai Demokrat menyalahgunakan dana negara untuk kampanye, menjelaskan salah satu dari dua kasus yang dapat menyebabkan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva menjadi pemimpin ketiga yang dipaksa mundur dari jabatannya sejak pemilu 2007.
Analis memperkirakan Bank of Thailand akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 1,75%, dan menahan diri dari menaikkan biaya pinjaman.

Tohru Nishihama, ekonom di Dai-ichi Life Research Institute Inc, Tokyo mengatakan, investor sudah membalikkan risiko karena masalah Eropa. Thailand memiliki risiko politik, yang menjauhkan pasar dari aset negara ini. “Selain itu, dengan perekonomian yang melambat, kita tidak mungkin melihat kenaikan tingkat suku bunga saat ini, yang akan membebani baht

 

0 comments: